Jumat, 30 Januari 2015

Bata Ringan (Hebel)

Pengertian
Bata ringan adalah batu bata yang memiliki berat jenis lebih ringan daripada bata pada umumnya. Bata ringan dikenal ada 2 (dua) jenis: Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC). Keduanya didasarkan pada gagasan yang sama yaitu menambahkan gelembung udara ke dalam mortar akan mengurangi berat beton yang dihasilkan secara drastis. Perbedaan bata ringan AAC dengan CLC dari segi proses pengeringan yaitu AAC mengalami pengeringan dalam oven autoklaf bertekanan tinggi sedangkan bata ringan jenis CLC yang mengalami proses pengeringan alami. CLC sering disebut juga sebagai Non-Autoclaved Aerated Concrete (NAAC).

Sejarah Beton Ringan
Beton ringan AAC ini pertama kali dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Beton ringan AAC ini kemudian dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman pada tahun 1943. Di Indonesia sendiri beton ringan mulai dikenal sejak tahun 1995, saat didirikannya Pabrikasi AAC di Karawang, Jawa Barat.

Bata Ringan AAC
Bata ringan AAC adalah beton selular dimana gelembung udara yang ada disebabkan oleh reaksi kimia, adonan AAC umumnya terdiri dari pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi).
Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama 7-8 jam. Alumunium pasta yang digunakan dalam adonan tadi, selain berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi kekerasan beton. Volume aluminium pasta ini berkisar 5-8 persen dari adonan yang dibuat, tergantung kepadatan yang diinginkan.
Adonan beton aerasi ini lantas dipotong sesuai ukuran. Adonan beton aerasi yang masih mentah ini, kemudian dimasukkan ke autoclave chamber atau diberi uap panas dan diberi tekanan tinggi. Suhu di dalam autoclave chamber sekitar 183 derajat celsius. Hal ini dilakukan sebagai proses pengeringan atau pematangan.
Saat pencampuran pasir kwarsa, semen, kapur, gypsum, air, dan alumunium pasta, terjadi reaksi kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke atmosfir dan langsung digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara yang terbentuk ini yang membuat beton ini menjadi ringan.

Bata Ringan CLC
Bata ringan CLC adalah beton selular yang mengalami proses curing secara alami, CLC adalah beton konvensional yang mana agregat kasar (kerikil) diganti dengan gelembung udara, dalam prosesnya mengunakan busa organik yang sangat stabil dan tidak ada reaksi kimia ketika proses pencampuran adonan, foam/busa berfungsi hanya sebagai media untuk membungkus udara.
Pabrikasi dan peralatan yang digunakan untuk menghasilkan CLC juga standard, sehingga produksi dengan mudah dapat pula diintegrasikan ke dalam pabrikasi beton konvensional. Hanya pasir, semen, air dan foam yang digunakan dan kepadatan yand didapatkan dapat disesuaikan mulai dari 350 kg/m³ sampai 1.800 kg/m³ dan kekuatan dapat juga dicapai dari serendah 1,5 sampai lebih 30 N/mm².
Pada CLC Gelembung udara di dalam beton benar-benar terpisah satu sama lain, sehingga penyerapan air jauh lebih sedikit dan baja tidak perlu dilapisi dengan lapisan anti korosi, beton dengan kepadatan diatas 1.200 kg/m3 juga tidak memerlukan pla-ster, seperti pada AAC, hanya cukup di cat saja. Penyerapan air lebih rendah daripada di AAC dan masih cukup baik dibandingkan dengan beton konvensional.
CLC sama halnya dengan beton konvensional kekuatan akan bertambah seiring dengan waktu melalui kelembapan alamiah pada tekanan atmosfir saja. Meskipun tidak seringan AAC, CLC tetap menawarkan penurunan berat badan yang cukup besar dibandingkan dengan beton konvensional dan isolasi termal 500% lebih tinggi dan tahan api.
Karena sangat praktis maka beton CLC menawarkan banyak ruang lingkup pengaplikasian, mulai dari isolasi atap rumah pada kepadatan serendah 350 kg/m³ sampai dengan produksi panel dan lantai beton dengan kepadatan 1800 kg/m³.

Kelebihan dan Kekurangan Bata Ringan
Bata Ringan adalah pilihan utama para kontraktor, pengembang dan arsitek di seluruh dunia, dikarenakan kelebihannya dalam semua aspek.
  1. Ringan: Dengan 1/3 beratnya bata merah, biaya angkutan dan konstruksi menjadi hemat.
  2. Efisiensi Energi: Tingginya daya insulasi suhu sangat menghemat biaya listri A/C dan membuat ruangan terasa nyaman sepanjang hari.
  3. Tahan Api: Solusi paling tepat untuk keamanan api: tingkat tahanan kebakaran hingga 4 jam – tertinggi diantara semua macam material dinding.
  4. Tahan Air: Tidak akan menyerap air – cirinya adalah mengapung diatas air. Ini akan mencegah dinding dari penjamuran dan kebocoran.
  5. Kedap Suara: Pori-pori didalamnya membuat dinding yang terbuat dari Bata Ringan sangat meredam kebisingan.
  6. Akuran dan Presisi: Sistem produksi berteknologi tinggi membuat dimensi dan ukuran Bata Ringan sangat akurat dan presisi. Sehingga pembangunan akan cepat dan hemat perekat dan acian.
  7. Hemat Waktu: Keringanan dan kemudahan pengerjaannya mempercepat waktu pembuatan dinding hingga lebih dari 3x lipat.
  8. Mudah Pengerjaan: Bobot yang ringan dan kuat menjadikan Bata Ringan mudah digergaji, dibor, dibentuk dan dikerjakan hanya dengan menggunakan peralatan kayu biasa.
  9. Tahan Lama: Dengan ciri yang kuat dan tahan terhadap perubahan cuasa, Bata Ringan adalah produk yang stabil dan awet.
  10. Ramah Lingkungan: Bata Ringan tidak mengandung bahan-bahan yang beracun maupun berbahaya. Bata Ringan tidak dapat dijadikan tempat tinggal bagi kutu atau serangga.
Kekurangan Bata Ringan:
  1. Harga material mahal. Untuk satu meter persegi bidang dinding dibutuhkan bata ringan seharga 8 x Rp. 10.000,00 = Rp. 80.000,00
  2. Perlu tukang dengan keahlian khusus untuk memasang bata ringan. Kalau dipasang asal-asalan, kepresisian akan hilang.
  3. Beberapa jenis bata ringan mesti dipasang memakai semen khusus (semen instan), walaupun ada beberapa jenis yang dapat dipasang dengan semen biasa. Tanyakan hal ini pada supplier bata ringan atau toko bangunan  pada saat membeli.
  4. Sulit dipaku sebab material bersifat perforated. Jika ingin menggantung lukisan atau furniture di dinding dengan bata ringan, mesti memakai baut dengan fisher.

Perbedaan Bata Ringan dengan Bata Merah



Cara Memasang Bata Ringan
Sebelum Anda mulai memasang bata, siapkan beberapa alat kerja, seperti roskam, jidar panjang dari baja atau alumunium. Setelah itu lakukan pengadukan, dengan cara:
  1. Masukan adukan kering Semen instan ke dalam bak adukan.
  2. Tuang air sebanyak 6,0-6,5 liter untuk kantong Semen instan pasangan bata ringan.
  3. Aduk campuran diatas hingga rata.
Kemudian, bersihkan dasar permukaan dari serpihan, kotoran dan minyak yang dapat mengurangi daya rekat adukan. Lalu, pasanglah bata dengan tebal spasi 10 mm. Jangan lupa untuk membasahi bata ringan yang hendak dipasang dengan air terlebih dahulu. Ini dilakukan karena bata memiliki daya serap air yang cukup tinggi, yaitu sebesar 20 gram/menit. Kemampuan yang dimiliki bata ringan ini bisa membuat campuran mortar mengalami dehidrasi sebelum proses pengerasan terjadi karena terserap oleh bata kering. Oleh karena itu, sebaiknya basahi dulu bata bata sekitar 1-2 menit sebelum dipasang.
Jika menggunakan semen pasangan bata, dalam 1 x 24 jam setelah bata ringan selesai dipasang, Anda sudah bisa mem-plester dinding bata tersebut menggunakan plestaran dan 1x24 jam selanjutnya Anda bisa mengacinya menggunakan acian.
Langkah-langkah memasang bata ringan bisa kita lihat dengan gambar berikut:

Langkah 1

 Langkah 2

Langkah 3

Langkah 4

Langkah 5

Langkah 6

Langkah 7

Langkah 8

Langkah 9


Pekerjaan plester dan aci

Video pekerjaan bata ringan bisa dilihat disini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar